• home
Home » » Kebahagiaan dan Arti Kebahagiaan

Kebahagiaan dan Arti Kebahagiaan

Apakah kebahagian itu?

 “Seorang anak muda yang gagah menderita begitu banyak musibah sehingga ia hampir-hampir putus asa. Ia mengeluhkan tenggorokannya yang mongering dan hidupnya yang miskin. Ia mengadu kepada yahnya dan memohon izinnya dan melakukan perjalanan agar dengan kekuatannya sediri ia bisa berhasil mencapai keinginannya.

Sang ayah berkata: “Anakk! Lepaskan dari pikiranmu gagasan yang tidak berguna ini. Tutup jubah ketenakan kebawah kaki kepuasan: sebagaimana dikatakan orang arif, “kebahagian tidak dicapai dengan jerih payah; kebahagian diperoleh dengan mengurangi keingingan.”

Tidak seorangpun meraih keberuntungan dengan tangan yang kuat.
Menaburkan celup kepada orang buta tidaklah bermanfaat.
Sekiranya kamu punya duaratus kemuliaan pada setiap helai rambutmu.
Musibah buruk tidak akan mengubah suratan tanganmu.
Mungkinkah pemuda gagah yang bernaasib buruk beruntung?
Jika, betapapun kuatnya takdir perkasa menjatuhkan pentung?
Sabg anak menjawab: “Ayahku, keuntun safar berlipat ganda: mencerahkan jiwa, member manfaat, melihat hal-hal yang indah, mendengarkan keajaiban, dan berbahagia melewati negeri-negeri baru, berhubungan dengan sahabat, memperoleh kedudukan, menambah kekayaan dan keuntungan, serta alat untuk memperoleh persahabatan dan membuktikan berbagai keberuntungan, sebagaimana para sufi pernah berkata
Kalau kamu berkutat di warung dan rumahmu
Hai orang dungu, kamu tidak bakal jadi manusia.
Berangkatlah dengan cerria, mengembara di seluruh dunia
Sebelum kamu meninggalkan duiniamu
Sang ayah menjawab, “Duhai anakku memang benar besar manfaat perjalanan yang sudah kamu sebut. Tetapi hanya lima jenis orang yang memperoleh manfaat dalam perjalanan. Orang pertama, pedagang kaya, yang karena memiliki kekayaan dan kemewahan, budak-budak yang rajin dan budak-budak perempuan yang cantik, serta  pelayan yang berani, menikmati semua kemewahan dunia. Setiap hari ia berada dalam kota dan setiap malam di di tempat penginapan, serta setiap saat dalam kenikmatan.
Orang yang kedua adalah orang yang berilmu, yang fasih berbicara dan pandai berbahasa

    Di gunung dan rimba atau di sahara orang kaya tidak sengsara
    Kemanapun ia pergi kemah dipancangkan dan tempat tidur di hamparkan
    Tetapi dia tidak punya harta tak juga punya mitra
    Bahkan di negeri sendiri, tak ada yang berbakti atau memberi
Orang  kedua adalah orang yang berilmu, yang fasih berbicara dan pandai berbahasa. Ke manapun dia pergi, semua orang bersegera berkhidmat kepadanya dan memuliakannya.
    Orang bijak bagai emas murni yang cemerlang
    Ke manapun ia datang, nilai dan harganya tidak berkurang
    Tetapi orang besar yang bodoh mendapat kemuliaan
    Hanya di negeri tempat ia dilahirkan
Orang ketiga adalah orang yang cantik jelita. Karena kecantikannya hati semua orang terpaut kepadanya. Bergaul dengannya di anggap orang banyak sebagai keberuntungan, dan perkhidmatan kepadanya di kira sebagai penghormatan. Sering di katakana bahwa sedikit kecantikan lebih baik dari banyak kekeyaan, wajah yang indah adalah obat bagi hati yang menderita dan kunci bagi pintu yang terbuka.

Orang ketiga adalah orang yang cantik jelita. Karena kecantikannya hati semua orang terpaut kepadanya.
Biarkan kecantikan pergi kemana saja, karena kehormatan akan datang menjelangnya
Walaupun orang tuanya dengan murka mengusirnya dari rumahnya
Suatu hari di tengah lembaran Al-Quran ketemukan bulu burung merak
Aku berkata,”Tempat ini tidak layak bagimu karena nilainya jauh di atasmu”
‘Diam!’jawabnya, “karena setiap orang yang mengenakan pesona keindahan
Ke manapun ia pergi semua menghormatinya sebagai kewajiban.
Jika seorang anak punya keramahan
Orang keempat adalah yang memiliki suara bagus, yang dengan tenggorokan nabi Daud, menahan air untuk tidak mengalir, menghalang burung untuk tidak tebang, dan dengan keindahannyaa, memesona hati setiap orang dan semua orang ingin bersahabat dengannya
Orang kelima adalah orang yang ounyaketerampilan, yang memperoleh penghasilan dengan karya tangannya, sehingga perilakunya tidak terganggu karena urusan makanannya.

Sifat-Sifat yang sudah aku sebutkan adalah alat untuk memperoleh hiburan dalam perjalanan dan sebab yang manis untuk memperoleh kebahagiaan. Orang yang tidak memiliki apa yang aku sebutkan akan memasuki dunia dengan harapan hampa. Orang tidak akan mendengarkan lagi namanya dan melihat sedikitpun jejak yangditinggalkannya.

Kisah sahdi itu mengungkapkan dengan sangat indah makna kebahagiaan sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan orang. Cerita sa’di tentang orang-orang bahagia adalah  cerita kita semua sepanjang masa. Berbahagialah orang kaya karena ia dapat mengubah penjara menjadi surge. Berbahagialah orang berilmu karena ia dapat membuat duka menjadi suka. Berbahagialah orang jelita karena di mana-mana ia merebut cinta. Berbahagialah para biduan karena dimana-mana ia menjadi pujaan. Berbahagialah orang yang punya keterampilan, karena di manapun ia bekerja, ia selalu sempat punya…..sambilan!
Kebahagiaan memang sudah menjadi pokok bahasan para sastrawan, agamawan, dan para filusuf sejak berabad-abad.

Kebahagiaan (Ingr.Happiness,jer.Gluck,Lat.Felicitas,Ar. Falah.Sa’adah) dalam berbagai bahasa Eropa dan Arab menunjukkan keberuntungan, peluang baik, dan kejadian yang baik. Dalam bahasa Cina,xing fu, kebahagiaan terdiri dari gabungan kata “beruntung” dengan “nasib baik”. Saya piker tema pertama dalam wacana filsafat  sejak zaman Yunani adalah kebahagiaan. Ketika manusia dari berbagai bangsa, mengalihkan perhatiaanya dari persoalan sehari-hari kepada persoalan kehidupan, yang pertama menarik perhatiannya adalah persoalan kebahagiaan.
Dalam benak setiap orang, sejak anak kecil sampaimorang dewasa, sejak orang awam sampai filusuf, ada gambaran tentang kebahagiaan.

Dalam benak setiap orang, sejak anak kecil sampai  orang dewasa, sejak orang awam sampai filusuf, ada gambaran tentang kebahagiaan.

Suruh anak-anak menggambarkan orang bahagia, maka mereka akan melukis seorang lelaki yang bertubuh besar, tersenyum besar, di depan rumah besar, di samping mobil besar. Tetapi orang dewasa (beneran, bukan hanya umur)  akan berpikir bahwa gambaran itu tidak seluruhnya benar. Apa yang di gambarkan anak itu menunjukkan hal-hal yang dapat dilihat. Ia tidak menunjukkan kekayaan. Tidak semua orang yang bertubuh besar menderita, sehingga mereka berusaha mencari obat untuk melangsingkan tubuh. 

Tidak semua orang yang tersenyum besar juga bahagia: karena ada banyak orang (sebagian di antara mereka pelawak dan artis) yang menyembunyikan derita di balik ketawa lebarnya. Tidak semua orang yang tinggal di rumah besar bahagia. Banyak di antara mereka yang justru menderita karena tinggal di rumah besar itu.

Para filusuf, seperti kita pernah jumpai pada Bab 2, berbeda-beda dalam mendefinisikan kabahagiaan. Ada di antara mereka yang menggambarkan kebahagiaan seperti apa yang di lukiskan anak itu. Filusuf besar seperti Aristoteles melihat kebahagiaan jauh di atas itu. Kebahagiaan dalam bentuk kesenangan jasmaniah seperti makan, bersenang-senang-tidak membedakkan kita dari makhluk Tuhan lainnya. Manusia tentu melihat kebahagiaan jauh di atas kesenangan-kesenangan fisik.

Sebagian filusuf bahkan menetapkan kebahagiaan sebagai landasan moral. Baik buruknya suatu tindakan diukur sejauh mana tindakan itu membawa kita pada kebahagiaan. Jika makan membuat kta bahagia, makan itu menjadi perbuatan baik. Jika makan banyak membuat kita sakit perut dan menderita, makan banyak menjadi perbuatan buruk. Kaum hedonis-seperti Aristippus dan Epicurus-dan utilitarian-Bentham dan J.S Mills_berada di sini.

Di seberang lainnya ada filusuf yang mengatakkan bahwa perbuatan baik buruk tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan, karena ada tindakan yang membuat kita bahagia tetapi disepakati tidak bermoral. 

Mungkin koruptor berbahagia ketika mengambil hak rakyat, tetapi hanya orang gila yang mengatakan “karena korupsi membuat bahagia, maka korupsi adalah perbuatan baik.” Menurut kelompok filusuf yang ini, perbuatan baik adalah tuntutan etis untuk menjalankan kewajiban, walaupun kewajiban itu membuat kita menderita. Tetapi, kita bertanya mengapa orang berbuat baik kalau jelas-jelas tidak mendatangkan kebahagiaan. Immmanuel Kant dan para pengikutnya yang berasa di sini sulit untuk menjawab pertanyaan itu.

Untuk menyelesaikan perbedanaan pendapat ini, kita harus menuntaskan dulu apa yang dimaksud dengan kebahagiaan. John Kekes, dalam Encyclopedia of Etnics menulis :

Sebagai langhkah pertama, kita dapat mengidentifikasi bagian yang inti dan disepakati tentang apa yang kita pahami sebagai kebahagiaan, jika rujukannya adalah hidup secara keseluruhan. 

Dalam pengertian ini, orang yang memiliki kebagahagiaan, puas dengan kehidupannya; mereka ingin melanjutkan hidup seperti itu; jika ditanya, mereka akan berkata bahwa segalanya berlangsung baik bagi mereka; keinginan mereka yang paling penting terpuaskan; mereka melakukan dan mempunyai banyak hal yang mmereka inginkan; mereka seringkali mengalami kegembiraan, keriangan, dan kesenangan; hidup mereka tidak terbsagi, karena secara keseluruhan keadaan mereka persis seperti ysang mereka inginkan; mereka tidak mengalasmi konflik batin yang asasi; mereka tidak menderita depresi, kecemasan, atau frustasi; mereka tidak menyesal dengan keputusan yang mereka ambil; mereka juga tidak terus menerus atau sering kali marah, kecewa, iri hati, merasa bersalah, malu, atau cemburu. 

0 comments:

Post a Comment

Search

Loading...